Tampilkan postingan dengan label Old Post. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Old Post. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2015

BNNK Beri Penyuluhan Kepada Ibu Hamil

  BNNK Beri Penyuluhan Kepada Ibu Hamil
 BNNK Aceh Selatan melaksanakan kegiatan penyuluhan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika (P4GN) kepada 25 orang ibu hamil dan siswa sekolah. (ANTARAACEH.COM)

Tapaktuan  - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan melaksanakan kegiatan penyuluhan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika (P4GN) kepada 25 orang ibu hamil, sehingga mereka bisa menjaga janinnya dan bersalin dengan sempurna.
   
Penyuluh narkoba, Hilma Yasni SST M Kes di Tapaktuan, Kamis menyatakan, peran ibu hamil sangat dibutuhkan dalam rangka menjaga generasi muda Indonesia terbebas Narkoba, karena selama ini mereka belum mengetahui lebih jauh tentang cara hidup sehat tanpa Narkoba demi perkembangan janin yang sehat.
   
"Karena itu, penerangan informasi pecegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika bagi ibu hamil ini, sangat penting dilakukan karena akan menambah pengetahuan untuk mereka demi menjaga kesehatan diri sendiri juga untuk calon generasi muda yang akan lahir dan berkembamg menjadi tunas bangsa nantinya," ujar Hilma Yasni.
   
Saat mengikuti penyuluhan P4GN, para peserta yang terdiri dari ibu hamil dan kalangan perempuan ibu rumah tangga itu, turut didampingi bidan di Puskesmas Samadua.
   
Pantauan di lapangan, selama berlangsungnya kegiatan penyuluhan para ibu hamil terlihat sangat antusias memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang dilemparkan narasumber sehingga suasana acara tampak hidup karena antara narasumber dengan peserta sama-sama aktif.
   
Di hari yang sama, BNNK Aceh Selatan juga melaksanakan penyuluhan P4GN terhadap siswa di SMAN 1 Meukek dan siswa SMAN 1 Samadua.
   
Sebagai narasumber BNNK Aceh Selatan menghadirkan Putro Simeulue SKep, MKep dengan materi yang dipaparkan "Hidup sehat tanpa Narkoba".
   
Putro Simeulue mengatakan, saat ini generasi muda banyak yang sudah ketergantungan terhadap narkoba karena telah lama menjadi pemakai baik jenis ganja, morfin, maupun sabu-sabu atau yang kalangan bawahnya sudah sering juga menghirup lem cap kambing.
   
Menurutnya, bahaya narkoba ini sudah merebak perkembangannya di dalam sekolah, sehingga anak-anak sudah banyak yang tidak segan-segan lagi merokok di lingkungan sekolah.
   
"Maka dari itu kita perlu menjaga dan mewaspadai anak didik baik dari keluarganya maupun lingkungan sosialnya dari pengaruh narkoba," ujar Putro Simeulu.
   
Pemateri lainnya, Nida Ulhayani SKM menyatakan, agar para siswa memahami akan sanksi yang diberikan kepada pengguna dan pengedar narkoba, maka penerangan informasi P4GN tersebut harus benar-benar bisa dipahami para pelajar sehingga ilmu yang telah didapatkan bisa diteruskan kepada generasi lainnya baik di lingkungan sekolah maupun kampung tempat tinggalnya.
   
Sementara itu, Kepala BNNK Aceh Selatan Sukri DN SH mengatakan, para pelajar dan pemuda sekarang ini sudah banyak yang terjerumus ke dalam lembah hitam narkoba, baik yang hanya coba-coba maupun yang sudah kecanduan yang akhirnya berimbas rusaknya jiwa dan bahkan sampai kematian.
   
"Maka BNNK Aceh Selatan tidak akan bosan-bosannya memberikan penyuluhan dan penerangan informasi P4GN kepada para siswa dan masyarakat umum, demi mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045," kata Sukri.
   
Para peserta penyuluhan P4GN di SMAN 1 Meukek dan SMAN 1 Samadua ini, terdiri dari perwakilan kelas 1 dan 2 masing-masing berjumlah 25 orang. Para siswa/i juga diwajibkan membentuk kelompok untuk mendiskusikan hasil pendapatnya dari pertanyaan yang diajukan oleh pemateri.

Senin, 06 April 2015

BNNK Aceh Selatan-Dishubkominfo Aceh Gelar Pesta Rakyat

 
 PESTA RAKYAT: Salah satu kegiatan pesta rakyat yang digelar BNNK Aceh Selatan dan Dishubkominfo Aceh di kabupaten tersebut, baru-baru ini.

Tapaktuan, - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan menggelar pesta rakyat dan deklarasi antinarkoba di tiga kecamatan, yaitu Sawang, Meukek, dan Labuhan Haji, baru-baru ini.

Pesta rakyat tersebut diisi dengan kesenian dan budaya, seperti rapai geleng, zikir, lagu dan lawak Aceh dan dilanjutkan dengan penyuluhan bahaya narkoba. Pesta rakyat juga diisi dengan hiburan dan permainan untuk anak-anak, seperti permainan kincir angin, bianglala, tong setan dan lainnya.

Narasumber yang menyampaikan materi penyuluhan ialah Kepala BNNK Aceh Selatan Syukri DN SH, Briptu Bisri Fuadi, dan  Asmanidar SST MPH.

Hadir pula Kepala Dinas Perhubungan Kominfo Aceh Selatan Hamzah SH yang memyampaikan harapannya agar kegiatan ini dilaksanakan secara terus-menerus setiap tahun.

Menurut BNNK Aceh Selatan, masyarakat di tiga kecamatan tersebut sangat antusias menghadiri pesta tersebut yang juga dihadiri beberapa pejabat Pemkab Aceh Selatan dan Muspika tiga kecamatan tersebut.

Dalam kesempatan itu juga disampaikan penegasan Presiden Joko Widodo bahwa pengguna narkoba lebih baik direhabilitasi ketimbang dihukum dan dipenjara.
“Presiden Joko Widodo menegaskan, lebih baik para pengguna dan pencandu narkoba direhabilitasi ketimbang dihukum,” kata Syukri seraya menyebut pemerintah akan merehabilitasi sejumlah 100 ribu pencandu narkoba sebagaimana dicanangkan presiden.

Rabu, 11 Maret 2015

BNNK Aceh Selatan Tes Urine Prajurit Kodim Abdya

BNNK Aceh Selatan Tes Urine Prajurit Kodim Abdya
 Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan bekerjasama dengan Komando Distrik Militer (Kodim) 0110 Aceh Barat Daya (Abdya) melakukan tes urine terhadap ratusan prajurit Kodim

Tapaktuan  - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan bekerjasama dengan Komando Distrik Militer (Kodim) 0110 Aceh Barat Daya (Abdya) melakukan tes urine terhadap ratusan prajurit Kodim setempat di Abdya, Selasa (10/3).

Pelaksanaan tes urine prajurit TNI ini, dipimpin oleh Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Aceh Selatan, dr Cut Sri Elvita dan di dampingi oleh bintara kesehatan Kodim 0110 Abdya serta di saksikan oleh para Perwira Seksi (Pasie) Kodim.

Pelaksanaan tes urine yang dihadiri langsung Kepala BNNK Aceh Selatan, Sukri DN SH ini, melibatkan sebanyak 150 orang prajurit jajaran Kodim 0110 Abdya yang terdiri dari Komandan Kodim (Dandim) Abdya, Letkol Inf Suhartono, Dansubdenpom Aceh Selatan, Lettu CPM Ahmad Darodi, Kasdim Abdya, para Pasie, Danramil se Abdya, Danposramil serta anggota TNI. Kegiatan ini juga diikuti oleh ibu-Ibu Persit Kartika Candra Kirana Ranting Tingkat II Kodim 0110 Abdya.

Dandim 0110 Abdya, Letkol Inf Suhartono dalam sambutannya mengatakan, pelaksanaan test urine dan sosialisasi P4GN terhadap prajurit Kodim 0110 Abdya tersebut merupakan wujud kepedulian untuk memfokuskan pencapaian program anggota TNI bebas dari Narkoba.

“Ini adalah suatu komitmen bersama seluruh komponen masyarakat, bangsa dan Negara Republik Indonesia untuk mewujudkan Indonesia emas bebas Narkoba Tahun 2045,” kata Suhartono.

Karena itu, Dandim Abdya Letkol Inf Suhartono mengharapkan kepada BNNK Aceh Selatan agar kedepannya dapat mengagendakan lagi kegiatan serupa secara berkala dan terus menerus sehingga bahaya Narkoba ditengah-tengah masyarakat khususnya di lingkungan prajurit Kodim setempat bisa diminimalisir.

Kepala BNNK Aceh Selatan, Sukri DN SH dalam paparan materinya dengan judul “strategi BNN dalam optimalisasi program P4GN menuju Indonesia emas tahun 2045” antara lain mengatakan, dalam rangka pelaksanaan Instruksi Presiden RI Nomor 12 tahun 2011 tentang pelaksanaan dan strategi Pencegahan, Pemberantasan dan Penyalahgunaan Narkoba, langkah desiminasi baik terhadap siswa sekolah dan masyarakat umum serta prajurit TNI/Polri harus terus di tingkatkan agar peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba dapat terus di minimalisir dan bahkan di berantas di Indonesia.


“Saat ini, Indonesia sudah di golongkan daerah rawan atau darurat Narkoba. Buktinya temuan kasus peredaran Narkoba masih cukup banyak demikian juga masyarakat yang menjadi korban Narkoba dari tahun ke tahun terus menunjukkan grafik peningkatan.
Makanya, untuk mencegah hal itu agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari, Presiden RI Joko Widodo telah mengeluarkan kebijakan bahwa Indonesia saat ini sedang berperang melawan Narkoba,” papar Sukri. 

Pemateri lainnya yakni Komandan Subdenpom TNI Aceh Selatan, Lettu CPM Ahmad Darodi dalam paparannya antara lain menjelaskan tentang dampak hukum bagi militer apabila menyalahgunakan Narkotika sesuai UU RI Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer dan UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Sedangkan materi tentang bahaya Narkoba ditinjau dari sisi Kesehatan Manusia disampaikan oleh Kabid PMK Dinkes Aceh Selatan, dr Cut Sri Elvita.

Kegiatan tes urine dan sosialisasi bahaya Narkoba di Markas Kodim 0110 Abdya ini, di akhiri dengan ceramah Agama Islam yang di sampaikan oleh Ustad Fakhri dengan materi yang di sampaikan terkait Khamar, Judi dan mengundi Nasib sesuai ajaran Al-quran.

Pantauan di lapangan, selama berlangsungnya pelaksanaan tes urine dan sosialisasi bahaya Narkoba yang di sampaikan oleh pemateri, para peserta yang terdiri dari para Perwira dan prajurit TNI Kodim 0110 Abdya sangat antusias dan serius mengikuti kegiatan tersebut.

Sabtu, 07 Maret 2015

Siswa Diajak Berperan Selamatkan Korban Narkoba

Tapaktuan - . Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNK) Aceh Selatan mengajak siswa SMKN 1 Tapaktuan berperan dalam menyelamatkan dan memberdayakan korban penyelahgunaan narkoba di lingkungan sekolah.
Ajakan itu disampaikan dalam pelaksanaan diskusi grup terfokus (focus group discussion/FGD) di Aula SMKN 1 Tapaktuan, Selasa (24/2).
Seksi Pemberdayaan Masyarakat BNNK Aceh Selatan melaksanakan program pengembangan kapasitas di lingkungan  SLTA yang diikuti sebanyak 50-an peserta dengan tema “Peran Pelajar dalam Menyelamatkan/Memberdayakan Korban Penyalahgunaan Narkoba dan Peredaran Gelap Narkoba di Lingkungan Sekolah”. FGD diikuti 50 peserta yang terdiri dari perangkat kelas dan OSIS sekolah itu.
Kepala BNNK Aceh Selatan Syukri DN SH dalam sambutannya menyampaikan, tujuan FGD adalah untuk menekan angka penyalahgunaan narkotika di sekolah dan meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan sikap siswa dalam menolak serta mencegah peredaran penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah.
“Siswa yang mengikuti kegiatan ini diharapkan menjadi perpanjangan tangan/perwakilan BNN di sekolah dalam menciptakan dan mencegah P4GN,” kata Syukri sembari menambahkan, FGD juga mengajak semua komponen di sekolah menciptakan lingkungan sekolah yang bebas narkoba.
Kepala SMKN 1 Tapaktuan, menyambut baik FGD ini yang menurutnya sangat bermanfaat bagi pelajar karena dikhawatirkan pada usia seperti mereka ini mudah terpengaruh penyalahgunaan narkoba.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh Selatan diwakili sekretaris Drs Jasmidir selaku narasumber mengatakan, status sosial seseorang tidak menjamin bisa lepas dari pengaruh penyalahgunaan narkoba.
Oleh karena itu, semua pihak harus proaktif melakukan pencegahan dan rehabilitasi para pecandu narkoba. Peran orang tua dan keluarga sangat penting dan berpengaruh terhadap anak-anak untuk terhindar dari penyalahgunaan narkoba.
Narasumber dari Dinas Kesehatan dr Nurul Akhrima, mengatakan, psikologis korban penyalahgunaan narkoba turut terganggu jika ada teman yang mengolok-olok dan mengucilkannya. Bahkan, bisa membuatnya depresi dan akhirnya bunuh diri.
Kasie Pemberantasan BNN Aceh Selatan Brigadir Haris juga menyampaikan materi tentang hukuman bagi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba menurut Undang-Undang (UU) No 35/2009 tentang Narkotika.

Selasa, 03 Maret 2015

BNNK Gencarkan Sosialisasi Bahaya Narkoba di Sekolah

BNNK Gencarkan Sosialisasi Bahaya Narkoba di Sekolah
 Kepala BNNK Aceh Selatan Sukri DN SH

Tapaktuan  - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan terus menggencarkan sosialisasi bahaya peredaran dan penggunaan Narkoba di lingkungan sekolah sebagai upaya pencegahan barang haram itu merusak generasi muda di daerah itu.

Kepala BNNK Aceh Selatan Sukri DN SH di Tapaktuan, Selasa (3/3) mengatakan, sebelumnya telah dilakukan upacara stop Narkotika di SMU Unggul Tapaktuan, kemudian langkah sosialisasi bahaya Narkoba dilanjutkan di SMKN 1 Samadua pada Rabu (25/2) lalu dan SMAN 2 Tapaktuan pada Kamis (26/2) lalu, dalam bentuk kegiatan Forum Grup Diskusion (FGD).

Kegiatan FGD dengan tema œperan serta pelajar dalam menyelamatkan/memberdayakan korban penyalahgunaan Narkoba dan peredaran gelap Narkoba dilingkungan sekolah di SMKN 1 Samadua diikuti 50 orang lebih peserta dari siswa dan para dewan guru sekolah tersebut.

Kepala BNNK Aceh Selatan Sukri DN SH yang di wakili olehKasie Dayamas, Nurlina S.Sos dalam paparannya di hadapan puluhan siswa menyatakan, Indonesia saat ini telah memasuki keadaan darurat Narkotika dimana hal itu merupakan ancaman besar bagi seluruh masyarakat khusus generasi muda.

Maka, peran peserta didik dirasa sangat penting dalam memerangi Narkoba di lingkungan sekolah dengan cara terusbekerja sama mewujudkan kebijakan Nasional P4GN, ujarnya.

Kepala Sekolah SMKN 1 Samadua, Sastra Zimanur, mengaku sangat senang mendapat kunjungan pihak BNNK untuk melaksanakan kegiatan FGD tersebut disekolahnya.

Dia mengharapkan kepada siswa-siswi di sekolah tersebut agar dapat mengambil pelajaran  yang berharga dari kegiatan itu, sehingga dapat menjadi bekal ilmu untuk membentengi dirimasing-masing dari ancaman penyalahgunaan Narkoba.

Seksi pemberantasan Narkoba BNNK Aceh Selatan, Brigadir Haris dalam paparannya menjelaskan, tentang materi mengenai hukuman bagi penyalahgunaan pengedaran gelap Narkoba menurut UU Nomor : 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Materi itu dimaksudkan agar peserta dapat mengetahui hukuman apa saja yang akan dijatuhi jika melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba.

Menurut Haris, jika terbukti siswa sekolah melakukan tindak pidana terkait Narkoba, maka sanksinya tidak hanya diterima oleh siswa bersangkutan tapi juga diterima oleh orang tua atau walinya jika mereka mengetahui anaknya melakukan penyalahgunaan dan pengedaran gelap Narkoba namun tidak melapor.

Materi lainnya juga di sampaikan oleh Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Aceh Selatan, dr. Cut Sri Elvita.

Dia mengungkapkan bahwa, rokok dapat dikategorikan sebagai pintu masuk Narkoba apalagi faktor lingkungan merupakan faktor terbesar dalam penyalahgunaan Narkoba di kalangan remaja.

Menurutnya, Narkoba disamping merusak fungsi organ vital dalam tubuh, efek terbesarnya adalah kematian seperti data yang diuraikannya bahwa angka kematian pecandu Narkoba di Indonesia sudah mencapai 18.000 jiwa per tahun.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh Selatan, Drs Jasmidir menyatakan pihaknya telah menyurati ke sekolah-sekolah tentang larangan merokok di lingkungan sekolah.

Dia mengharapkan agar seruan itu dapat direspon dengan baik oleh pihak sekolah untuk kepentingan masa depan generasi muda di daerah itu.

Sementara itu, pelaksanaan FGD serupa juga telah dilaksanakan oleh BNNK Aceh Selatan melalui bidang Dayamas di  SMAN 2 Tapaktuan.

Sukri mengatakan, kegiatan FGD itu merupakan salah satu dari program pengembangan kapasitas di lingkungan pendidikan tingkat SLTA.

Ia mengharapkan, dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan sikap siswa dalam menolak serta mencegah peredaran penyalahgunaan Narkoba di lingkungan sekolah.

Senin, 23 Februari 2015

BNNK Aceh Selatan Gelar Upacara Stop Narkotika di Sekolah

 BNNK Aceh Selatan Gelar Upacara Stop Narkotika di Sekolah
Tapaktuan - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan, Senin (23/2), menggelar upacara Stop Narkotika di SMU Unggul Tapaktuan.

Upacara yang dipimpin Kepala BNNK Aceh Selatan, Sukri DN SH itu melibatkan ratusan siswa serta dewan guru dan kepala sekolah.

Dalam arahannya, Sukri mengatakan upacara Stop Narkotika di sekolah-sekolah dilaksanakan secara serentak seluruh Indonesia  dalam rangka menindaklanjuti amanat Presiden RI Joko Widodo tentang penanganan ancaman narkotika dalam mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045.

“Sesuai amanat Bapak Presiden, dalam rangka penanganan ancaman Narkotika di Tanah Air, saat ini penyelamatan generasi muda Indonesia sangat diutamakan, karena kondisi negara saat ini sudah masuk kategori darurat Narkoba,” kata Sukri.

Dia menyatakan, berdasarkan data yang direalise pihak BNN Pusat, per hari rata-rata mencapai 50 orang pengguna Narkoba seluruh Indonesia yang mati sia-sia. “Jika dikalikan 360 hari maka dalam setahun mencapai 18.000 orang para pengguna Narkoba yang mati sia-sia,” ujarnya.

Pada tahun 2014, sambung Sukri, hampir sebanyak 4,5 juta orang seluruh Indonesia yang rusak akibat penyalahgunaan Narkoba, dimana di antara jumlah itu sebanyak 1,2 juta orang tidak bisa direhabilitasi lagi karena sudah tergolong parah.

Melihat semakin parahnya penyalahgunaan Narkoba di Indonesia, kata Sukri, Presiden Joko Widodo telah menyatakan komitmennya untuk “berperang” melawan Narkoba melalui program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

“Sesuai arahan dari Bapak Presiden, program ini harus tetap berlanjut agar generasi muda dan masyarakat dapat diselamatkan,” tegas Sukri.

Dihadapan ratusan siswa dan dewan guru serta Kepala Sekolah SMU Unggul Tapaktuan, Sukri juga menginformasikan bahwa, di Lembaga Pemasyarakatan (LP) seluruh Indonesia khususnya di Provinsi Aceh rata-rata sebanyak 70 persen penghuninya berasal dari Narapidana Narkoba.

Bahkan yang celakanya lagi, sambung Sukri, meskipun sudah dalam penjara tapi masih mengendalikan peredaran Narkoba di luar penjara sehingga pihaknya menilai bahwa memang sebuah langkah tepat yang diambil oleh Pemerintah Indonesia memberikan sanksi hukuman tegas seberat-beratnya bagi tersangka pengedar Narkoba.

“Maka oleh sebab itu, kami minta kepada siswa-siswi dan dewan guru agar kita harus satu garis, satu kata dan dengan tegas mari bersama-sama menyatakan komitmen perangi Narkoba tanpa ada toleransi, sekecil apapun di lingkungan sekolah bila mengetahui ada peredaran atau penggunaan Narkoba segera laporkan, sehingga generasi muda Aceh Selatan dapat kita selamatkan,” tandasnya.

Setelah mendengarkan arahan dari Kepala BNNK Aceh Selatan, para siswa-siswi SMU Unggul Tapaktuan secara bersama-sama mengucapkan ikrar “Panca Anti Narkoba” yang berisi antara lain bahwa siswa-siswi SMU Unggul Tapaktuan siap sebagai garda terdepan dalam menghambat peredaran gelap Narkoba di lingkungan sekolah.

Di samping itu, siswa-siswi SMU Unggal Tapaktuan juga menyatakan tekadnya untuk membantu pemberantasan narkoba bersama BNNK, TNI/Polri dan Dinas terkait. Selanjutnya, bersikap pola pikir yang jernih dan terampil untuk menolak penyalahgunaan Narkoba.

Ditanyai secara terpisah, Kepala BNNK Aceh Selatan, Sukri DN SH mengatakan, pelaksanaan upacara Stop Narkotika itu, rencananya akan dilaksanakan empat kali dalam sebulan selama tahun 2015 ini di lokasi sekolah berbeda-beda dalam Kabupaten Aceh Selatan.

Sasaran pelaksanaan Upacara Stop Narkotika itu, menurut Sukri, mulai Sekolah tingkat SLTP, SLTA sampai Kampus yang ada dalam Kabupaten Aceh Selatan.

“Tujuan pelaksanaan upacara stop narkotika ini, sebagai langkah sosialisasi pihak BNNK Aceh Selatan kepada para siswa-siswi  agar kuat membentengi diri dari pengaruh Narkoba serta juga sebagai wadah untuk mencegah semakin meluasnya peredaran dan penggunaan Narkoba di lingkungan Sekolah,” pungkasnya.

Sabtu, 21 Februari 2015

BNN Aceh Selatan Gelar P4GN

Tapaktuan - Badan Narkotika Nasional (BNN) Aceh Selatan melaksanakan penyuluhan infor­masi pencegahan pemberantasan penyalah­gunaan peredaran gelap narkoba (P4GN) di SMP Negeri 1 Sawang, Rabu (18/2).

Pada kesempatan itu, dibahas materi “Penyalahgunaan Narkoba dan Hukuman bagi Pengguna Narkoba” yang disampai­kan Kepala BNN Aceh Selatan, Syukri DN SH.
Dalam paparannya dia mengungkapkan, generasi muda sangat berperan penting dalam mewujudkan kebijakan nasional P4GN untuk menuju Indonesia Emas 2045. Apalagi, dengan kondisi saat ini yang sangat memprihatinkan dengan anak-anak sekolah menjadi target pasar narkoba.

Menutut dia, Indonesia saat ini berada dalam keadaan darurat narkoba. Dengan adanya kematian rata-rata 50 orang/hari sehingga setiap tahun ada sekitar 18.000 orang meninggal akibat penyalah­gunaan narkoba. Pada 2014, angka korban narkoba sudah mencapai 4.5 Juta orang.
BNN Pusat menargetkan rehabilitasi pecandu narkoba sebanyak 100 ribu orang. Oleh karena itu, perlu kebersamaan dalam mem­be­rantas penyalahgunaan narkotika itu.

Bersama semua pihak, tokoh pemuda. agama, tuha peut, dinas dan instansi terkait, maupun TNI-Polri terus gencar membente­ngi siapapun agar tidak terpapar narkoba.
Seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat membentengi diri dari penyalah­gunaan narkotika sehingga harapan Presi­den Joko Widodo dalam Rakornas 2015 untuk mewujudkan “Indonesia Emas 2045” dapat dicapai, khususnya di Aceh Selatan.

Kegiatan penerangan informasi P4GN tersebut diikuti perwakilan pelajar dari SLTP dalam Kecamatan Sawang, yakni sebanyak 25 peserta kader antinarkotika.
Selain melalui pemaparan, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi grup terfokus (FGD). Setelah pemaparan yang disampai­kan oleh narasumber, dilanjutkan dengan membagi peserta menjadi lima untuk mendiskusikan efek dari narkoba dan cara menghindari penyalah­gunaan narkoba.
Setiap kelompok memaparkan penda­pat­nya dan mensosialisasi­kan dengan ke­lompok lain sehingga para peserta dapat memahami bahaya narkoba tersebut, demikian Syukri DN.

Sabtu, 24 Januari 2015

BNNK: Aceh Selatan Diduga Ada Pabrik Sabu

 BNNK: Aceh Selatan Diduga Ada Pabrik Sabu

Tapaktuan,  - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan menyatakan tingkat peredaran dan pengguna narkoba di daerah tersebut dari tahun ke tahun terus menunjukkan grafik peningkatan, karena ada dugaan wilayah ini ada pabrik pengolahan sabu-sabu dan ladang ganja.

"Dari hasil pemantauan dan pemetaan lokasi yang kami lakukan beberapa waktu lalu, telah terpantau ada home industri pembuatan sabu-sabu serta sejumlah ladang ganja di Aceh Selatan," kata Kepala BNNK Aceh Selatan Sukri DN SH di Tapaktuan, Sabtu.

Namun, Sukri menolak menyebutkan dimana lokasi home industri sabu-sabu dan sejumlah ladang ganja tersebut dengan alasan akan mengganggu proses penindakan nantinya.

Sebab, sambung Sukri, sesuai aturan SOP BNNK di daerah tidak dibenarkan melakukan penindakan di lapangan melainkan hanya melakukan pemantauan dan pemetaan lokasi. Yang berwenang melakukan penindakan langsung adalah pihak BNNP dan BNN Pusat.

"Makanya, terkait hal itu, kami berencana dalam waktu dekat ini akan berkoordinasi dengan pihak BNNP dan BNN Pusat, agar segera dilakukan proses penindakan di lapangan," ujarnya.

Sukri mengungkapkan, sesuai arahan dari pihak BNN Pusat, pada tahun 2015 pihaknya akan menggencarkan upaya pencegahan dan pemberantasan peredaran gelap narkotika di Aceh Selatan, karena upaya sosialisasi (desiminasi) telah optimal dilakukan pada tahun 2014.

Program lainnya yang menjadi fokus utama pihaknya pada tahun 2015 ini adalah, pemberdayaan masyarakat, dengan cara mengarahkan masyarakat yang selama ini gemar menanam ganja dialihkan agar gemar menanam tanaman produktif yang mampu mengangkat perekonomian mereka.

“Untuk menyukseskan program ini, rencananya kami akan menggandeng pihak Pemkab Aceh Selatan melalui Dinas terkait serta pihak TNI/Polri, sehingga program pemberdayaan perekonomian masyarakat tersebut mendapat dukungan secara maksimal dari pihak terkait," katanya.

Kamis, 22 Januari 2015

BNNK: Narkoba Mulai Merambah Sekolah Di Aceh Selatan

 BNNK: Narkoba Mulai Merambah Sekolah Di Aceh Selatan
Kepala BNNK Aceh Selatan Sukri DN.

Tapaktuan,  - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan mencatat tingkat peredaran narkoba di daerah itu sudah sangat mengkhawatirkan, karena tidak hanya menyasar masyarakat umum tapi juga sudah merambah secara luas ke anak-anak dan siswa sekolah.

Hasil pendataan yang di lakukan oleh BNNK Aceh Selatan pada tahun 2014, jumlah anak-anak dan siswa sekolah yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba mencapai puluhan orang yang tersebar di 18 kecamatan.

“Pengguna narkoba ini di samping didominasi masyarakat umum juga anak-anak siswa sekolah se tingkat SLTP dan SMA, sehingga Aceh Selatan saat ini telah digolongkan daerah darurat narkoba,” kata Kepala BNNK Aceh Selatan Sukri DN SH di Tapaktuan, Kamis.


Dari 18 kecamatan di Aceh Selatan, kata Sukri, peringkat pertama siswa sekolah terbanyak memakai narkoba adalah di Kecamatan Kluet Utara, kemudian disusul Pasie Raja, Labuhan Haji, Meukek dan Samadua.

Adapun jenis narkotika yang beredar selama ini di Aceh Selatan selain didominasi ganja juga sabu-sabu serta ekstasi.

Untuk menekan semakin banyaknya korban penyalahgunaan narkoba di Aceh Selatan, pihak BNNK terus menggencarkan pelaksanaan sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) baik kepada masyarakat umum juga ke sekolah-sekolah.

“Langkah sosialisasi ini telah kami laksanakan sejak tahun 2011 lalu menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor : 12 Tahun 2011 tentang pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan langkah itu terus berlanjut sampai tahun 2015,” ujarnya.

Di samping melakukan langkah sosialisasi, kata Sukri, pihaknya juga telah membentuk dan mendeklarasikan 100 orang siswa sekolah kader antinarkoba di sekolah-sekolah seluruh Aceh Selatan.
Dia menyatakan pada tahun 2015, langkah serupa juga akan berlanjut dengan membentuk kader antinarkoba di desa-desa.

“Salah satu bukti bahwa penyalahgunaan narkoba di Aceh Selatan sudah tergolong parah dan mengkhawatirkan dapat dilihat dari penghuni Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Tapaktuan, yakni dari 115 orang, 95 orang atau sekitar 80 persen lebih adalah narapidana narkoba,” sebut Sukri.

Sukri mengatakan, pihaknya selain fokus utama melakukan langkah sosialisasi tentang bahaya narkoba, juga melakukan langkah pencegahan, pemberantasan serta pemberdayaan masyarakat.

Khusus untuk pemberdayaan masyarakat, kata Sukri, pihaknya terus memberikan bimbingan kepada masyarakat agar mau merubah pola pikir dari gemar menanam ganja beralih ke tanaman produktif lainnya yang mampu mendongkrak perekonomian mereka sendiri.

Namun yang menjadi kendala dan hambatan pihaknya selama ini, kata Sukri, untuk menindaklanjuti program itu, dukungan dari Pemerindah daerah serta instansi terkait lainnya terkesan masih sangat kurang.

“Untuk mewujudkan program tersebut, sebenarnya tidak cukup hanya mengandalkan BNNK saja, tapi butuh peran semua pihak baik Pemerintah daerah melalui SKPK terkait maupun pihak TNI/Polri serta lembaga vertikal lainnya, sebab program pemberantasan narkoba tidak hanya tanggungjawab BNNK tapi tanggungjawab seluruh lapisan masyarakat,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Sukri juga menyampaikan bahwa, dari puluhan pengguna narkoba yang telah terdata pihaknya, sesuai dengan arahan BNN Pusat bahwa pengguna narkoba tidak perlu lagi dipenjara melainkan direhabilitasi , maka pada tahun 2015 ini pihaknya berencana akan merehabilitasi beberapa pengguna narkoba di Aceh Selatan.

Berhubung di Aceh Selatan belum ada tempat rehabilitasi pengguna narkoba sebab di Provinsi Aceh baru ada satu tempat rehabilitasi yakni di Kota Langsa, maka para pengguna narkoba tersebut rencananya dalam waktu dekat ini akan diberangkatkan ke Langsa.

“Untuk jumlah pastinya berapa orang pengguna narkoba dan berapa orang yang akan di rehabilitasi, tidak bisa saya sebutkan untuk saat ini. Tapi yang pasti dalam tahun 2015 ini ada pengguna narkoba di Aceh Selatan yang akan di rehabilitasi ke Langsa,” ungkapnya.

Ia menyatakan rehabilitasi tersebut merupakan keputusan tim dokter dari rumah sakit RSUD Yulidin Away Tapaktuan serta juga telah mendapat persetujuan keluarga.

Di bagian lain, Sukri mengungkapkan bahwa dalam konteks program yang perlu dilakukan untuk memutus mata rantai peredaran narkoba di Aceh Selatan selain dengan cara mengarahkan masyarakat dari gemar menanam ganja harus mau beralih menanam tanaman produktif.

Di samping itu, pihaknya juga meminta kepada pihak BNNP dan BNN Pusat, agar segera membangun atau membentuk kantor BNNK di setiap kabupaten/kota di Aceh khususnya di pantai barat selatan Aceh.

“Untuk memutus mata rantai peredaran narkoba di Aceh Selatan, langkah penting yang harus dilakukan oleh BNNP dan BNN Pusat adalah segera membentuk kantor BNNK di Pemko Subulusssalam karena daerah itu berada di perbatasan Aceh dengan Sumatra Utara,” pinta Sukri.

Sedangkan jenis narkotika yang diawasi ketat oleh pihaknya saat ini, selain ganja dan sabu-sabu, juga terhadap narkotika jenis baru yang dikhawatirkan juga akan masuk ke Aceh Selatan.

“Saat ini cukup banyak jenis narkotika baru, seperti LSD dan ganja sentetis yang rasa dan efeknya sama persis seperti ganja asli. Sebab dari 355 jenis narkotika di dunia sebanyak 37 jenis di antaranya sudah terdeteksi di Indonesia,” pungkasnya